Menjaga kulit tetap sehat dan cerah

Kulit memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Tidak hanya untuk keindahan, namun juga berbagai fungsi lain yang jauh lebih penting. Karena itulah kulit harus dijaga dengan baik.

“Tak kenal maka tak sayang” oleh karena itu di artikel berikut, penulis berusaha menjelaskan fungsi-fungsi kulit, alasan mengapa kulit harus dijaga, lalu diakhiri dengan upaya merawat kulit tetap sehat dan cerah.

Menjaga kulit tetap sehat dan cerah_FloresPos

Teringat kota Ende yang sangat sepi, dengan matahari yang panas menyengat, didominasi oleh pria dan wanita berkulit coklat kehitaman. Kulit adalah milik semua orang tanpa memandang ras, kulit yang sehat adalah idaman semua orang. Artikel ini dipublikasikan kembali untuk mengenang pelayanan dr. Rachel Djuanda di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur 5 tahun yang lalu.

Jerawat bukan masalah sulit

Kalau ditanya apa penyakit kulit yang pasti pernah dialami oleh setiap orang, jawabannya adalah JERAWAT.

Artikel berikut mengupas tuntas penyebab dari jerawat, pengobatan, dan pencegahannya. Ditulis oleh dr. Rachel Djuanda saat berkarya di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur untuk masyarakat setempat.

Jerawat bukan masalah sulit_FloresPos

Dr. Rachel Djuanda, SpKK sekarang praktek di RSU Bunda Jakarta

image

Jam praktek baru per Maret 2016:

  • Selasa pukul 07.30-10.30
  • Kamis pukul 11.00-14.00
  • Sabtu pukul 11.00-14.00

______________________________________________________

Mulai tanggal 12 Mei 2015:
dr. Stefani Rachel Soraya Djuanda, SpKK, berpraktek di RSU Bunda Jakarta

Jadwal praktek:
Hari Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul 11-14

RSU Bunda Jakarta
Jl. Teuku Cik Ditiro no. 21
Menteng, Jakarta Pusat
(Seberang RS ibu & anak Bunda Jakarta)
Telp. 021-3192 3344

Berkenalan dengan liposuction: membentuk tubuh ideal

Liposuction atau bedah sedot lemak (BSL) merupakan tindakan yang sudah dikenal sejak tahun 1975, namun tetap populer dan mendapat perhatian masyarakat. Tindakan BSL tentu saja poluler karena dapat menghilangkan lemak tubuh yang tidak diinginkan.

Sebenarnya apa arti dari liposuction?
Berasal dari kata “lipo” = lemak dan “suction” = sedot, liposuction diterjemahkan sebagai bedah sedot lemak (BSL) dalam bahasa Indonesia. BSL adalah suatu cara menghilangkan lemak tubuh dengan cara membuat lubang kecil pada kulit dan mengeluarkan lemak tersebut dengan tenaga vakum (sedot).

Apakah tindakan BSL dapat membuat saya menjadi kurus?
Tujuan utama BSL adalah menghilangan bagian tubuh tertentu yang tidak anda sukai, apalagi yang sulit hilang dengan tindakan olahraga. Tindakan BSL tidak ditujukan untuk menguruskan badan, namun membentuk tubuh yang ideal. Biasanya setelah tindakan, anda akan merasa lebih percaya diri karena tidak ada lagi lipatan lemak yang menggantung dari celana jins atau dari kemben, baju dirasa lebih longgar, atau wajah tampak lebih tirus.

Bagaimana prosedur tindakan BSL?
Dokter akan menandai area yang akan disedot menggunakan spidol. Lokasi lubang untuk memasukkan alat penyedot (kanula) juga ditandai. Area dibersihkan dengan betadine, sedangkan area sekitarnya akan ditutup dengan kain steril. Dokter akan menyuntikkan sedikit cairan anestesi di lokasi lubang, lalu membuat lubang kecil dengan pisau (sekitar 5 mm). Dokter memasukkan cairan anestesi tumesen melalui lubang kecil tersebut, lalu menunggu paling cepat 30 menit agar anestesi bekerja efektif. Lalu dilakukan penyedotan menggunakan kanula khusus. Setelah prosedur selesai, dokter akan menutup lubang dengan 1 buah jahitan.

Bagaimana perawatan setelah tindakan BSL?
Perawat akan membersihkan sisa betadine, lalu menutup lubang dengan balutan tebal agar dapat menyerap cairan tumesen. Seluruh area yang disedot akan dibalut dengan menggunakan korset atau bebat elastis. Pasien akan diminta untuk kontrol 1 hari kemudian untuk melakukan penggantian balutan.

Berapa lama cairan tumesen akan terus mengalir ke luar?
Biasanya selama 24 jam. Karena itulah pasien dianjurkan untuk kembali 1 hari setelah tindakan BSL.

Berapa lama jahitan dilepas?
Tergantung dari lokasi, pelepasan jahitan dilakukan dalam 1-2 minggu.

Apakah jahitan boleh terkena air?
Hindari jahitan terkena air dalam 1 minggu pertama. Jahitan akan ditutup menggunakan plester kedap air. Bila plester terlepas, dapat diganti setiap kali selesai mandi menggunakan tensoplas.

Berapa lama korset/ balutan harus digunakan?
Korset harus digunakan sedikitnya 2 minggu. Semakin lama digunakan, hasil akan semakin maksimal.

Apa yang dimaksud dengan cairan anestesi tumesen?
Penggunaan cairan anestesi lidokain yang diencerkan dalam larutan garam fisiologis (formula Klein atau Lilis). Larutan ini digunakan untuk menggembungkan jaringan lemak agar mudah dikeluarkan. Pengenceran ini juga dapat meningkatkan keamanan lidokain, serta meminimalkan komplikasi.

Berapa lama tindakan BSL berlangsung?
Tergantung pada jumlah daerah, luas, dan volume yang dikeluarkan. Biasanya memakan 1-2 jam.

image

Berapa batas maksimal lemak yang dikeluarkan?
BSL dikatakan aman bila jumlah lemak yang dikeluarkan tidak lebih dari 2 liter pada 1 kali pembedahan.

Setelah prosedur BSL, apakah lemak akan kembali menumpuk?
Lemak tidak bisa kembali menumpuk di area yang disedot.

Berapa lama hasil akan terlihat setelah prosedur BSL?
Hasil maksimal akan terlihat dalam 2 bulan setelah prosedur BSL.

Apakah yang harus dilakukan untuk mempertahankan hasil BSL?
Pola makan sehat dan olahraga teratur akan mempertahankan hasil BSL.

Spesialis apakah yang dapat melakukan tindakan BSL?
Beberapa spesialis dapat melakukan tindakan BSL sesuai dengan kompetensinya. Dokter spesialis kulit melalukan tindakan BSL dengan anestesi tumesen, dimana pasien dalam keadaan sadar. Sedangkan dokter spesialis bedah plastik melakukan tindakan BSL dalam anestesi umum, dimana pasien dalam keadaan tidak sadar.

Bagaimana keamanan tindakan BSL?
Sampai saat ini pernah dilaporkan beberapa kali kasus kematian pada tindakan BSL yang dilakukan dalam anestesi umum. Namun belum ada kasus kematian pada BSL yang dilakukan dalam anestesi tumesen.

Sumber: buku “Liposuction : membentuk tubuh dengan sedot lemak” oleh dr. Edwin Djuanda, Balai Penerbit FKUI 1996

Hidup berdampingan dengan pengidap HIV/ AIDS

“Semua masalah pasti ada jalan keluar, asalkan kita mau membuka diri.”

Ini adalah salah satu kutipan kata-kata bijak yang sangat berkesan dari film Nada untuk Asa. Sebuah film karya asli Indonesia yang dirilis tanggal 5 Februari 2015. Film hasil kerjasama Sahabat Positif dan Komite Sosial KAJ ini bercerita tentang perjuangan dua wanita pengidap HIV positif untuk tetap hidup di tengah masyarakat.

image

NADA (Marsha Timothy), seorang istri dan ibu yang bahagia serta tampak sempurna, dalam sekejap harus kehilangan suami yang sangat ia cintai. Suaminya meninggalkan 3 orang anak dan penyakit HIV yang dianggap aib oleh masyarakat, sehingga NADA dijauhi oleh keluarganya, terutama ayahnya yang sangat mencintainya.

ASA (Acha Septriasa), seorang gadis ceria dan kuat, pengidap HIV sejak kecil yang terus berjuang untuk hidup. Walaupun berat, ia tidak pernah menunjukkan beban yang dihadapinya.

Film ini digarap secara profesional, dengan alur maju-mundur yang cukup membuat penonton memeras otak. Pada akhirnya terungkap bahwa ASA adalah anak ketiga dari NADA yang memang mendapat HIV sejak di dalam kandungan.

Pesan yang terkandung dalam film ini sangat padat, terutama mengenai cinta kasih serta kesabaran yang mengalahkan segalanya. Tergambar dengan jelas rasa sakit hati yang dialami oleh seorang istri yang merasa dibohongi oleh suami, serta usahanya untuk memaafkan dan kembali berjuang untuk menjalani hidup.

Stigma masyarakat yang begitu dalam terhadap pengidap HIV, sehingga membuat ASA yang berprestasi dipecat dari perusahaannya. Bahkan saat salah 1 relawan dari komunitas HIV mengalami tabrak lari, tidak ada masyarakat yang mau membantu karena takut tertular. Masalah demi masalah datang silih berganti, namun semangat untuk tetap hidup dan sifat positif dapat menjadi kunci bagi kehidupan yang lebih baik.

Kehadiran tokoh WISNU (Darius Sinathrya) sebagai seorang pendamping pengidap HIV/ AIDS, yang tertarik pada sifat kuat dan positif ASA, menciptakan konflik yang menarik. Prinsip, tingkah laku, dan kata-kata yang diucapkan oleh WISNU sangat berlawanan dengan pandangan masyarakat pada umumnya. Sungguh sangat menggelitik sisi kemanusiaan seseorang.

imageMenghadapi situasi seperti ini memang serba salah. Di satu pihak ada benarnya juga untuk melindungi diri sendiri, namun apakah sisi kemanusiaan kita tidak terkutik? Apakah pengidap HIV sungguh harus dikucilkan dari masyarakat? Memandang dari sudut pandang kedokteran:

  • HIV (human immunodeficiency virus) dapat ditularkan dapat ditularkan dari 1 orang ke orang lain. Namun penularannya tidak semudah virus batuk pilek. HIV hanya bisa ditularkan bila ada kontak darah atau melalui kulit serta mukosa (kulit tipis) yang tidak utuh. Sebagai contoh, penularannya dapat melalui hubungan badan, transfusi darah, pengguna narkoba suntik, melalui plasenta maupun melalui penggunaan pisau cukur bersama-sama.  HIV tidak menular melalui udara, berjabatan tangan, atau berpelukan.
  • Pengidap HIV tidaklah sama dengan penderita AIDS (acquired immunodeficiency syndrome). AIDS merupakan penyakit yang dapat muncul pada pengidap HIV yang tidak mau berobat atau yang tidak mengetahui bahwa ia mengidap HIV. Penderita AIDS biasanya sudah menunjukkan berbagai gejala penyakit kronik seperti penampilan layaknya tulang dibalut kulit dan mudah sakit (batuk, diare, bahkan kanker). Sedangkan pengidap HIV masih terlihat seperti manusia biasa dengan aktivitas biasa.
  • Sampai saat ini belum ada obat yang mampu menghilangkan HIV 100%, namun sudah tersedia obat ARV (anti retro viral) untuk menekan perkembangan HIV. Obat ini pun disediakan secara cuma-cuma oleh pemerintah, bisa didapatkan di berbagai instansi kesehatan pemerintah.
  • Untuk mengetahui apakah anda atau pasangan anda sudah terkena HIV dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah. Namun ada baiknya untuk berkonsultasi lebih dahulu dengan petugas kesehatan.

Sebaiknya jangan memandang sebelah mata pengidap HIV karena belum tentu ia terkena HIV akibat perbuatannya sendiri dan semua orang juga memiliki risiko untuk terkena. Tindakan melindungi diri sendiri adalah yang paling tepat, namun bukan berarti harus membenci atau mengucilkan orang lain yang menderita.

Berpatah-patah kata pengantar

Saya adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga dokter, khususnya dokter spesialis kulit dan kelamin (SpKK). Dokter adalah satu-satunya pekerjaan yang bersahabat di telinga saya. Dan memang setelah menempuh pendidikan formal selama lebih dari 15 tahun, akhirnya selesai juga studi demi mendapatkan titel SpKK. Saatnya terjun ke dalam masyarakat.

Kembali lagi ke urusan per-kulit-an…kecintaan saya terhadap kulit bukan karena ikut-ikutan semata atau yang dibilang orang it is in your blood already. Kulit yang kadang dipandang sebelah mata karena kesannya selalu berhubungan dengan kosmetik/estetik, ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih mendalam. Karena itulah catatan ini diberi judul RAHASIA KULIT ANDA. Di dalam blog ini, Anda bisa terlibat dalam berbagai misteri kulit manusia…mulai dari fungsinya sebagai pembentuk keindahan tubuh, mengatur stabilitas suhu tubuh, sampai lemak yang sering dianggap sebagai “pengganggu” ternyata dapat digunakan sebagai stem cell (gak usah menyesal kalau di jaman kita dulu belum ada bank plasenta).

image

Judul blog ini diambil dari sebuah buku kesehatan untuk awam yang diterbitkan oleh Ayah (sekaligus pahlawan dan idola saya), dr.Edwin Djuanda, SpKK, tahun 1990. Juga untuk mengenang opa saya, Prof. Dr. dr. Suria Djuanda, SpKK(K) (Alm).

Selain membahas mengenai ilmu kesehatan kulit, blog ini juga akan membahas mengenai penyakit kelamin yang ternyata memiliki hubungan yang erat. Mudah-mudah blog ini dapat memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat mengenai kesehatan kulit dan kelamin.

Isi dari catatan ini adalah catatan pribadi penulis, berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman pribadi penulis. Tidak ada tulisan yang bertujuan untuk menjatuhkan atau mencemarkan nama baik seseorang. Bila ada tulisan yang kurang berkenan, silahkan disampaikan.

Salam,
Stefani Rachel Soraya Djuanda
– 2010-2015: studi spesialisasi kulit dan kelamin di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
– 2009-2010: praktek sebagai dokter umum di Ende, Flores, NTT
– 2002-2008: studi dokter umum di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
– 1999-2002: SMU Santa Ursula, Jakarta Pusat
– 1996-1999: SLTP Santa Theresia, Jakarta Pusat