Test for Sexually Transmitted Diseases: do I need it?

STD

What is sexually transmitted diseases (STD)?

Sexually transmitted disease (venereal disease, sexually transmitted infection) is a variety of signs and symptoms caused by pathogens (mostly bacteria, virus, or fungal) that can be acquired and transmitted through sexual activity. According to World Health Organization, approximately 30 pathogens have been identified as STD causes.

Let me know their names!

These are some diseases classified as STD which are commonly found in Indonesia: gonorrhea, chlamydiosis, syphilis, HIV, genital herpes, genital warts, hepatitis B, trichomoniasis, etc.

How is STD transmitted?

  • Mostly through sexual activity involving the sex organs, the anus, or the mouth
  • Contact with blood, body fluids or tissue from an STD infected person
  • Sharing unsterilized needles (especially in drug user)

What are the symptoms?

Symptoms may vary, depend on the disease. Most patients do not complain any symptoms. Some others may experience vaginal/penile discharge, pain, genital ulcer, etc.

Do I need a test?

According to Center for Disease Control and US Preventive Services Task Force, STD screening is recommended for people at increased risk. You are at increased risk if you are having multiple current partners, having a new partner, using condoms inconsistently, having sex while under the influence of alcohol or drugs, commercial sex worker, drug user, men who have sex with men, and women who have sex with women.

If you are… Recommended tests
Pregnant women All pregnant women are recommended to be tested for HIV, syphilis, hepatitis B and C, and Chlamydia trachomatis,

Test for gonorrhea only if you have previous gonorrhea infection, other STDs, new or multiple sex partners, inconsistent condom use, commercial sex work, and drug use

Non pregnant women HIV, syphilis, chlamydia, gonorrhea
Men HIV, syphilis, chlamydia, gonorrhea

What should I do if I get positive results?

Consult your doctor for further testing and treatment. Also tell your doctor about how you feel because you may experience anger or shame. But remember what you have done is the right thing. Another important thing is to notify your partner. Your partner may also need to get tested or treated as you may transmit the infection back and forth.

RA

This article is written by dr. Radityo Anugrah, Sp.KK

radityoanugrah@gmail.com

IG: @radityoanugrah

Bamed Skin Care Darmawangsa Square

Advertisements

Hidup berdampingan dengan pengidap HIV/ AIDS

“Semua masalah pasti ada jalan keluar, asalkan kita mau membuka diri.”

Ini adalah salah satu kutipan kata-kata bijak yang sangat berkesan dari film Nada untuk Asa. Sebuah film karya asli Indonesia yang dirilis tanggal 5 Februari 2015. Film hasil kerjasama Sahabat Positif dan Komite Sosial KAJ ini bercerita tentang perjuangan dua wanita pengidap HIV positif untuk tetap hidup di tengah masyarakat.

image

NADA (Marsha Timothy), seorang istri dan ibu yang bahagia serta tampak sempurna, dalam sekejap harus kehilangan suami yang sangat ia cintai. Suaminya meninggalkan 3 orang anak dan penyakit HIV yang dianggap aib oleh masyarakat, sehingga NADA dijauhi oleh keluarganya, terutama ayahnya yang sangat mencintainya.

ASA (Acha Septriasa), seorang gadis ceria dan kuat, pengidap HIV sejak kecil yang terus berjuang untuk hidup. Walaupun berat, ia tidak pernah menunjukkan beban yang dihadapinya.

Film ini digarap secara profesional, dengan alur maju-mundur yang cukup membuat penonton memeras otak. Pada akhirnya terungkap bahwa ASA adalah anak ketiga dari NADA yang memang mendapat HIV sejak di dalam kandungan.

Pesan yang terkandung dalam film ini sangat padat, terutama mengenai cinta kasih serta kesabaran yang mengalahkan segalanya. Tergambar dengan jelas rasa sakit hati yang dialami oleh seorang istri yang merasa dibohongi oleh suami, serta usahanya untuk memaafkan dan kembali berjuang untuk menjalani hidup.

Stigma masyarakat yang begitu dalam terhadap pengidap HIV, sehingga membuat ASA yang berprestasi dipecat dari perusahaannya. Bahkan saat salah 1 relawan dari komunitas HIV mengalami tabrak lari, tidak ada masyarakat yang mau membantu karena takut tertular. Masalah demi masalah datang silih berganti, namun semangat untuk tetap hidup dan sifat positif dapat menjadi kunci bagi kehidupan yang lebih baik.

Kehadiran tokoh WISNU (Darius Sinathrya) sebagai seorang pendamping pengidap HIV/ AIDS, yang tertarik pada sifat kuat dan positif ASA, menciptakan konflik yang menarik. Prinsip, tingkah laku, dan kata-kata yang diucapkan oleh WISNU sangat berlawanan dengan pandangan masyarakat pada umumnya. Sungguh sangat menggelitik sisi kemanusiaan seseorang.

imageMenghadapi situasi seperti ini memang serba salah. Di satu pihak ada benarnya juga untuk melindungi diri sendiri, namun apakah sisi kemanusiaan kita tidak terkutik? Apakah pengidap HIV sungguh harus dikucilkan dari masyarakat? Memandang dari sudut pandang kedokteran:

  • HIV (human immunodeficiency virus) dapat ditularkan dapat ditularkan dari 1 orang ke orang lain. Namun penularannya tidak semudah virus batuk pilek. HIV hanya bisa ditularkan bila ada kontak darah atau melalui kulit serta mukosa (kulit tipis) yang tidak utuh. Sebagai contoh, penularannya dapat melalui hubungan badan, transfusi darah, pengguna narkoba suntik, melalui plasenta maupun melalui penggunaan pisau cukur bersama-sama.  HIV tidak menular melalui udara, berjabatan tangan, atau berpelukan.
  • Pengidap HIV tidaklah sama dengan penderita AIDS (acquired immunodeficiency syndrome). AIDS merupakan penyakit yang dapat muncul pada pengidap HIV yang tidak mau berobat atau yang tidak mengetahui bahwa ia mengidap HIV. Penderita AIDS biasanya sudah menunjukkan berbagai gejala penyakit kronik seperti penampilan layaknya tulang dibalut kulit dan mudah sakit (batuk, diare, bahkan kanker). Sedangkan pengidap HIV masih terlihat seperti manusia biasa dengan aktivitas biasa.
  • Sampai saat ini belum ada obat yang mampu menghilangkan HIV 100%, namun sudah tersedia obat ARV (anti retro viral) untuk menekan perkembangan HIV. Obat ini pun disediakan secara cuma-cuma oleh pemerintah, bisa didapatkan di berbagai instansi kesehatan pemerintah.
  • Untuk mengetahui apakah anda atau pasangan anda sudah terkena HIV dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah. Namun ada baiknya untuk berkonsultasi lebih dahulu dengan petugas kesehatan.

Sebaiknya jangan memandang sebelah mata pengidap HIV karena belum tentu ia terkena HIV akibat perbuatannya sendiri dan semua orang juga memiliki risiko untuk terkena. Tindakan melindungi diri sendiri adalah yang paling tepat, namun bukan berarti harus membenci atau mengucilkan orang lain yang menderita.